Roti Segar di Pagi Hari
Pada hari Senin pagi pukul 6.30, seperti
biasa Lily membuka toko roti miliknya. Dengan wajah ceria Ia menatap langit di
hari yang cerah itu dengan penuh semangat. Pakaian seragam merah muda dikenakannya,
Ia memasuki toko roti kecil dengan papan diatas pintu masuk tertulis “Lily’s Bakery”. Dengan diding toko
berwara soft peach serta meja dan counter roti yang berwarna putih bersih,
luas toko itu hanya dapat dimuat oleh 15 orang. Lily segera memasuki dapur melalui
pintu putih di belakang counter roti dan
memulai adonan roti pertamamnya. Ia mengukur dengan takaran cangkir dan
memasukkan ¼ ons ragi dalam mangkuk merah muda berdiameter 30 cm itu.
Selanjutnya Ia menambahkan 4 ½ cangkir air hangat dengan suhu 110o
C, 3 sendok makan gula pasir, 1 sendok makan garam dapur, dan 2 sendok
makan minyak canola. Terakhir Ia menambahkan 6 ¾ cangkir tepung serbaguna dan
mengaduk seluruh bahan adonan sampai menyatu. Selanjutnya Ia mengeluarkan
adonan dan meletakkannya diatas meja dapur yang sudah dtaburi tepung putih yang
lembut. Kedua tangan Lily yang kecil dan lembut segera mengulen adonan roti
selama 10 menit secara konsisten dan penuh semangat.
Oven dinyalakan dan dipanaskannya
pada suhu 375o C. Adonan yang sudah siap, Ia masukkan ke dalam dua
loyang roti berbahan aluminium dengan ukuran masing-masing 9x5 inci. Selama 30
menit Ia membiarkan adonan roti tersebut dalam Loyang sampai adonan mengembang
dari ukuran sebelumnya. Saat oven sudah menunjukkan suhu 375o C,Ia
segera memasukkan kedua loyang adonan roti dengan tangannya yang berbalut kain
tebal untuk menghindari kulitnya dari panas oven tersebut. Setelah 30 menit
Lily menunggu, Ia membuka pintu oven dengan tangan yang tetap berbalut kain dan
mengeluarkan kedua roti segar berwarna coklat muda keemasan. Bau roti dengan
harum yang mempesona segera memenuhi seluruh dapur hingga ruangan display roti. Ia menepuk rotinya satu
per satu dan segera mendengar suara ciri khas roti yang berongga.“Puk-puk”,
dari roti pertamanya dan “tuk-tuk”, dari roti keduanya. Roti dapat mengembang
dan berongga karena bahan ragi yang ditambahkannya pada tahap pertama pembuatan
roti tersebut. Rongga-rongga pada roti tersebut terbentuk bulat kecil dari
dasar roti hingga bulat besar pada bagian atas roti.
Waktu
menunjukkan pukul 7.00 pagi, 1 jam setelah Lily membuat kedua roti segar itu,
saat tiba-tiba Ia mendengar suara pintu masuk tokonya terbuka pelan-pelan.
Seorang pelanggan bertubuh lebar dan pendek telah memasuki toko miliknya, pria
tersebut tampak senang dan tetap menghirup harum roti segar di udara. Lily
segera menuju counter yang
bersebelahan dengan pintu masuk toko dan menghampiri pelanggan tersebut dengan
senyuman yang manis. “Selamat pagi pak, adakah yang ingin saya bantu?”, kata
Lily dengan suara yang lembut. “Eeeh, aku barusan saja melewati tokomu dan
mencium bau yang enak dan menarik, apakah ada roti segar?”, kata pria tersebut
dengan yang kepala menoleh ke kanan dan ke kiri mencari roti segar tersebut.
“Ahahaha sepertinya anda telah datang tepat waktu, roti petama saya baru saja
selesai pemanggangan”, tutur Lily dengan semangatnya yang membara. “Owhh,
pantas saja harum rotimu dapat saya cium dari depan toko ini, kalau begitu
bolehkah saya melihat rotimu itu?”, kata pria tersebut dengan wajah yang turut
semangat. Lily membalas dan berkata, “Oke pak, saya ambilkan dulu ya”, lalu Ia
bergegas ke dapur dan mengambilkan roti segar untuk bapak itu. Setelah pria
tersebut melihat roti buatan Lily, Ia berkata, “Wah, besar juga ya rotinya,
kalau begitu saya mau beli 1 loyang saja deh”. Lily langsung mengambilkan satu
loyang roti yang besar dan hangat
tersebut, dan dimasukkannya ke dalam paper
bag besar berwarna merah muda yang dibuat khusus untuk roti-roti di toko Lily.
Pria
itu segera menerima roti segar yang diberikan Lily dan menicum bau harumnya
sekali lagi dengan hidung mancungnya yang tertempel pada ujung paper bag yang terbuka. Mukanya memperliatkan
raut yang tampak menikmati dan senang akan roti segar itu. Setelah itu, pria
tersebut segera menanyakan Lily harga dari satu loyang roti tersebut dan tidak
segan langsung membayarnya dengan harga yang cukup diatas rata-rata untuk harga
roti pada umumnya. Setelah pria tersebut selesai membayar, Ia langsung bergegas
keluar dari toko dan melanjutkan perjalanannya ke kantor perusahaan terdekat dengan
berjalan kaki diantara gedung-gedung tinggi yang sepertinya menghempit toko
roti kecil itu. Lily tak lupa untuk memberi salam sampai jumpa kepada pria
tesebut dan mengharapkannya kembali membeli roti segarnya lagi. Lily kemudian
memasuki pintu putih dibelakang counter
roti, dan mulai membuat adonan roti keduanya di dapur mungil tersebut. Dengan wajahnya
yang bersemangat, ia memulai pembuatan adonannya dan mengisi sepanjang hari
tersebut dengan wajah yang bahagia dan tentunya ramah akan pelanggan-pelanggan
berikutnya.
Daftar
pustaka :
Basic
Homemade Bread in The Taste of Home Cookbook. 2006. Basic Homemade Bread
Recipe. www.tasteofhome.com
RSC
Advancing the Chemical Sciences. 2011. Baking
Powder. www.rsc.org
Tidak ada komentar:
Posting Komentar