Minggu, 15 Oktober 2017

Roti Segar di Pagi Hari



                                                  Roti Segar di Pagi Hari
            Pada hari Senin pagi pukul 6.30, seperti biasa Lily membuka toko roti miliknya. Dengan wajah ceria Ia menatap langit di hari yang cerah itu dengan penuh semangat. Pakaian seragam merah muda dikenakannya, Ia memasuki toko roti kecil dengan papan diatas pintu masuk tertulis “Lily’s Bakery”. Dengan diding toko berwara soft peach serta meja dan counter roti yang berwarna putih bersih, luas toko itu hanya dapat dimuat oleh 15 orang. Lily segera memasuki dapur melalui pintu putih di belakang counter roti dan memulai adonan roti pertamamnya. Ia mengukur dengan takaran cangkir dan memasukkan ¼ ons ragi dalam mangkuk merah muda berdiameter 30 cm itu. Selanjutnya Ia menambahkan 4 ½ cangkir air hangat dengan suhu 110o C, 3 sendok makan gula pasir, 1 sendok makan garam dapur, dan 2 sendok makan minyak canola. Terakhir Ia menambahkan 6 ¾ cangkir tepung serbaguna dan mengaduk seluruh bahan adonan sampai menyatu. Selanjutnya Ia mengeluarkan adonan dan meletakkannya diatas meja dapur yang sudah dtaburi tepung putih yang lembut. Kedua tangan Lily yang kecil dan lembut segera mengulen adonan roti selama 10 menit secara konsisten dan penuh semangat.
            Oven dinyalakan dan dipanaskannya pada suhu 375o C. Adonan yang sudah siap, Ia masukkan ke dalam dua loyang roti berbahan aluminium dengan ukuran masing-masing 9x5 inci. Selama 30 menit Ia membiarkan adonan roti tersebut dalam Loyang sampai adonan mengembang dari ukuran sebelumnya. Saat oven sudah menunjukkan suhu 375o C,Ia segera memasukkan kedua loyang adonan roti dengan tangannya yang berbalut kain tebal untuk menghindari kulitnya dari panas oven tersebut. Setelah 30 menit Lily menunggu, Ia membuka pintu oven dengan tangan yang tetap berbalut kain dan mengeluarkan kedua roti segar berwarna coklat muda keemasan. Bau roti dengan harum yang mempesona segera memenuhi seluruh dapur hingga ruangan display roti. Ia menepuk rotinya satu per satu dan segera mendengar suara ciri khas roti yang berongga.“Puk-puk”, dari roti pertamanya dan “tuk-tuk”, dari roti keduanya. Roti dapat mengembang dan berongga karena bahan ragi yang ditambahkannya pada tahap pertama pembuatan roti tersebut. Rongga-rongga pada roti tersebut terbentuk bulat kecil dari dasar roti hingga bulat besar pada bagian atas roti.
Waktu menunjukkan pukul 7.00 pagi, 1 jam setelah Lily membuat kedua roti segar itu, saat tiba-tiba Ia mendengar suara pintu masuk tokonya terbuka pelan-pelan. Seorang pelanggan bertubuh lebar dan pendek telah memasuki toko miliknya, pria tersebut tampak senang dan tetap menghirup harum roti segar di udara. Lily segera menuju counter yang bersebelahan dengan pintu masuk toko dan menghampiri pelanggan tersebut dengan senyuman yang manis. “Selamat pagi pak, adakah yang ingin saya bantu?”, kata Lily dengan suara yang lembut. “Eeeh, aku barusan saja melewati tokomu dan mencium bau yang enak dan menarik, apakah ada roti segar?”, kata pria tersebut dengan yang kepala menoleh ke kanan dan ke kiri mencari roti segar tersebut. “Ahahaha sepertinya anda telah datang tepat waktu, roti petama saya baru saja selesai pemanggangan”, tutur Lily dengan semangatnya yang membara. “Owhh, pantas saja harum rotimu dapat saya cium dari depan toko ini, kalau begitu bolehkah saya melihat rotimu itu?”, kata pria tersebut dengan wajah yang turut semangat. Lily membalas dan berkata, “Oke pak, saya ambilkan dulu ya”, lalu Ia bergegas ke dapur dan mengambilkan roti segar untuk bapak itu. Setelah pria tersebut melihat roti buatan Lily, Ia berkata, “Wah, besar juga ya rotinya, kalau begitu saya mau beli 1 loyang saja deh”. Lily langsung mengambilkan satu loyang  roti yang besar dan hangat tersebut, dan dimasukkannya ke dalam paper bag besar berwarna merah muda yang dibuat khusus untuk roti-roti di toko Lily.
Pria itu segera menerima roti segar yang diberikan Lily dan menicum bau harumnya sekali lagi dengan hidung mancungnya yang tertempel pada ujung paper bag yang terbuka. Mukanya memperliatkan raut yang tampak menikmati dan senang akan roti segar itu. Setelah itu, pria tersebut segera menanyakan Lily harga dari satu loyang roti tersebut dan tidak segan langsung membayarnya dengan harga yang cukup diatas rata-rata untuk harga roti pada umumnya. Setelah pria tersebut selesai membayar, Ia langsung bergegas keluar dari toko dan melanjutkan perjalanannya ke kantor perusahaan terdekat dengan berjalan kaki diantara gedung-gedung tinggi yang sepertinya menghempit toko roti kecil itu. Lily tak lupa untuk memberi salam sampai jumpa kepada pria tesebut dan mengharapkannya kembali membeli roti segarnya lagi. Lily kemudian memasuki pintu putih dibelakang counter roti, dan mulai membuat adonan roti keduanya di dapur mungil tersebut. Dengan wajahnya yang bersemangat, ia memulai pembuatan adonannya dan mengisi sepanjang hari tersebut dengan wajah yang bahagia dan tentunya ramah akan pelanggan-pelanggan berikutnya.


Daftar pustaka :
Basic Homemade Bread in The Taste of Home Cookbook. 2006. Basic Homemade Bread
RSC Advancing the Chemical Sciences. 2011. Baking Powder. www.rsc.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar