Bapak
Teknologi Pangan Indonesia
Prof. Dr. Florentinus Gregorius
Winarno sudah banyak dikenal masyarakat dengan panggilan “Bapak Teknologi Pangan
Indonesia” khususnya untuk para peneliti
dan tokoh-tokoh dalam bidang pangan lainnya. Sejak kecil Ia sudah bercita-cita
menjadi guru dan mimpinya tersebut terwujudkan karena tekad dan semangatnya. Tepatnya
pada tahun 2010, Prof. Winarno dinobatkan sebagai “Bapak Teknologi Pangan
Indonesia” oleh Museum Rekor Indonesia atau MURI.
Prof.
Dr. Florentinus Gregorius Winarno lahir di Klaten, Jawa Tengah pada tanggal 15
Februari 1938. Prof. Winarno dikenal
tidak hanya di Indonesia sebagai pakar teknologi pangan dan gizi berskala internasional
dan ia sempat menjadi President
Codex Alimentarius Commission (CAC). Codex
Alimentarius Commission atau CAC adalah
sebuah badan yang menetapkan standar mutu pangan di bawah FAO (Food and Agriculture Organization) yang
aslinya bertempat di Roma, Italia.
Beliau telah memiliki masa jabatan sebagai Presiden CAC selama dua periode pada
tahun 1991 sampai 1995. Prof. Winarno juga salah seorang perintis yang tetap
setia mengawal perjalanan program IRN (Indofood Riset Nugraha) hingga saat ini.
Beliau juga pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Katolik Atmajaya Jakarta
pada tahun 2007 sampai 2011 lalu. Prof. Winarno jugaq dikenal sudah aktif
menulis dan menerbitkan buku-buku yang menjadi referensi di bidang pertanian,
teknologi pangan, gizi, dan bioteknologi sejak Ia berusia muda.
Pada
tahun 2007, sebagai rektorat beliau mempersiapkan Universitas Katolik Atmajaya
menjadi kampus berstandar tinggi. Setelah di akhir masa baktinya sebagai rektor, beliau siap melepas almamaternya tersebut dan
bersaing di tingkat global. Florentinus Gregorius Winarno, atau yang biasa
dipanggil Pak Win pada Universitas tersebut, senantiasa menanamkan kebanggaan
dan pembelajaran untuk para muridnya yang akhirnya siap dalam menghadapi
persaingan global dengan tidak melupakan jati dirinya. Beliau sempat
mengungkapkan pemikirannya pada salah satu wawancara, bahwa ia akan
mempersiapkan Universitas Atma Jaya sebagai global
local university. Diartikan bahwa para mahasiswa dan civitas akademika Atma
Jaya dipersiapkan untuk bersaing di tingkat internasional tetapi tetap berakar dan
tidak lupa akan tradisi dan nilai local di Indonesia.
Kembali
pada masa kecil beliau, ia berasal dari keluarga yang sederhana dan memiliki
dua saudara lainnya. Maka, dalam kondisi tersebut munculnya tekad beliau untuk
memperbaiki kehidupannya dan keluarganya. Setelah lulus dari SMA St. Joseph
Solo, ia pun melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
(IPB) dengan beasiswa penuh. Akan tetapi, sebuah kejadian traumatis ketika ia
berada di semester VI kuliahnya yang akhirnya membuatnya berubah pikiran dan
berpindah program studi. Beliau kemudian pindah ke Fakultas Teknologi
Pengolahan Pangan di Institut Pertanian Bogor tersebut dan justru pada
keadaan inilah yang mengalihkannya ke
awal jalan kesuksesan hidupnya.
Setelah
kelulusannya dari IPB, Prof. Winarno mendapatkan beasiswa dari US-AID (United States Agency for International
Development) untuk mendalami dalam bidang
studi ilmu dan teknologi pangan. Gelar Master of Science pun diraihnya pada tahun
1968, dan Doctor of Philosophy pada tahun 1970 dari Departemen Ilmu Pangan
Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge, Massachusetts,
Amerika Serikat. Selama ia melaksanakan studi di Negeri Asing, istri beliau A.M.
Kriastuti turut mendampinginya sambil mengasuh kedua anak mereka, yaitu Micheal
Satya Wirawan dan Ignatya Widya Kristiarti. Sedangkan anak ketiga mereka lahir
di Indonesia dengan nama Stephanus Widjajanto, setelah ia menyelesaikan studi
doktoralnya.
Selama
menempuh studi magister, Prof. Winarno di dibimbing oleh Profesor Stumbo.
Meskipun Profesor Stumbo sempat meremehkannya di awal pertemuan mereka, namun keberhasilan
Prof. Winarno menaklukkan tantangan membuat sang profesor balik menyayanginya. Sepulang
dari Amerika Serikat, Winarno kembali ke IPB. Saat itupun ia dipercaya menjadi
Ketua Jurusan Teknologi Hasil Pertanian pada tahun 1971. Di usia 36 tahun,
Winarno diangkat menjadi dekan Fakultas Mekanisasi dan Teknologi Hasil
Pertanian (Fatemeta) IPB. Ketika di IPB, ia mendirikan dua lembaga penelitian
dalam bidang pangan. Dengan bantuan Bank Dunia ia mendirikan Food Technology Development Center
(FTDC) yang kemudian dikenal sebagai Pusat Pengembangan Teknologi Pangan
(Pusbangtepa). Sedangkan bantuan dari pemerintah Jepang digunakannya untuk
membangun Agricultural Product Processing
Pilot Plant (AP4). AP4 ini kemudian berkembang menjadi Southeast Asian Food & Agricultural Science and Technology
(Seafast).
Pada
saat itu Prof. Winarno memimpin gerakan peningkatan gizi bayi melewati konsumsi
air susu ibu (ASI). Beliau juga berhasil meluluskan standar internasional untuk
produk mi instan dan susu fermentasi. Tidak hanya itu, beliau juga telah
mengeluarkan 98 buku dan lebih dari 200 artikel atau jurnal ilmiah pada saat
itu. Salah satu prinsip dalam ilmu pangan yang selalu disampaikan kepada
murid-muridnya adalah, tidak mungkin bahan mentah berkualitas buruk dijadikan
pangan dengan kualitas baik. Prof. Winarno pun berkata, “Tantangan utama dalam
dunia pangan Indonesia adalah kebutuhan akan berbagai inovasi yang mencipatakan
makanan baru dengan teknologi yang murah, awet, tidak merusak lingkungan dan
enak.” Beliau
sempat memodernkan sistem pengajaran di kampus Atma Jaya tersebut. Melalui
pengadaan teknologi pada tiap kelas dan memanfaatkan sistem student based learning. Sebagai pengajar, filosofi hidupnya adalah
mempercayai mimpi. Menurutnya, semua orang perlu bermimpi besar untuk
dikembangkan di kemudian hari. Ia mengatakan “Jika tidak bermimpi, maka kita
tidak akan menjadi besar. Saya juga selalu meyakinkan murid-murid saya bahwa
mereka lebih pintar dan percaya diri dan akan menjadi orang yang lebih baik
dari gurunya.” Pada tanggal 1 Desember 2011 lalu, Prof. Winarno akhirnya
melepaskan jabatannya sebagai rektor Universitas Katolik Atma Jaya.
Daftar
Pustaka :
Nola
Ahgla. 2016. “Pesan Prof Winarno, Bermimpi dan Bertindaklah”. www.cnnidonesia.com
Agung.
2011. “Prof FG Winarno dan Ketokohannya”.