Minggu, 10 Desember 2017

Bapak Teknologi Pangan Indonesia



                                            Bapak Teknologi Pangan Indonesia
            Prof. Dr. Florentinus Gregorius Winarno sudah banyak dikenal masyarakat dengan panggilan “Bapak Teknologi Pangan Indonesia” khususnya untuk para peneliti  dan tokoh-tokoh dalam bidang pangan lainnya. Sejak kecil Ia sudah bercita-cita menjadi guru dan mimpinya tersebut terwujudkan karena tekad dan semangatnya. Tepatnya pada tahun 2010, Prof. Winarno dinobatkan sebagai “Bapak Teknologi Pangan Indonesia” oleh Museum Rekor Indonesia atau MURI.
Prof. Dr. Florentinus Gregorius Winarno lahir di Klaten, Jawa Tengah pada tanggal 15 Februari 1938. Prof. Winarno  dikenal tidak hanya di Indonesia sebagai pakar teknologi pangan dan gizi berskala  internasional  dan ia sempat menjadi President Codex Alimentarius Commission (CAC). Codex Alimentarius Commission atau CAC adalah  sebuah badan yang menetapkan standar mutu pangan di bawah FAO (Food and Agriculture Organization) yang aslinya bertempat  di Roma, Italia. Beliau telah memiliki masa jabatan sebagai Presiden CAC selama dua periode pada tahun 1991 sampai 1995. Prof. Winarno juga salah seorang perintis yang tetap setia mengawal perjalanan program IRN (Indofood Riset Nugraha) hingga saat ini. Beliau juga pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Katolik Atmajaya Jakarta pada tahun 2007 sampai 2011 lalu. Prof. Winarno jugaq dikenal sudah aktif menulis dan menerbitkan buku-buku yang menjadi referensi di bidang pertanian, teknologi pangan, gizi, dan bioteknologi sejak Ia berusia muda.
Pada tahun 2007, sebagai rektorat beliau mempersiapkan Universitas Katolik Atmajaya menjadi kampus berstandar tinggi. Setelah di akhir  masa baktinya sebagai rektor, beliau  siap melepas almamaternya tersebut dan bersaing di tingkat global. Florentinus Gregorius Winarno, atau yang biasa dipanggil Pak Win pada Universitas tersebut, senantiasa menanamkan kebanggaan dan pembelajaran untuk para muridnya yang akhirnya siap dalam menghadapi persaingan global dengan tidak melupakan jati dirinya. Beliau sempat mengungkapkan pemikirannya pada salah satu wawancara, bahwa ia akan mempersiapkan Universitas Atma Jaya sebagai global local university. Diartikan bahwa para mahasiswa dan civitas akademika Atma Jaya dipersiapkan untuk bersaing di tingkat internasional tetapi tetap berakar dan tidak lupa akan tradisi dan nilai local di Indonesia.
Kembali pada masa kecil beliau, ia berasal dari keluarga yang sederhana dan memiliki dua saudara lainnya. Maka, dalam kondisi tersebut munculnya tekad beliau untuk memperbaiki kehidupannya dan keluarganya. Setelah lulus dari SMA St. Joseph Solo, ia pun melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan beasiswa penuh. Akan tetapi, sebuah kejadian traumatis ketika ia berada di semester VI kuliahnya yang akhirnya membuatnya berubah pikiran dan berpindah program studi. Beliau kemudian pindah ke Fakultas Teknologi Pengolahan Pangan di Institut Pertanian Bogor tersebut dan justru pada keadaan  inilah yang mengalihkannya ke awal jalan kesuksesan hidupnya.
Setelah kelulusannya dari IPB, Prof. Winarno mendapatkan beasiswa dari US-AID (United States Agency for International Development)  untuk mendalami dalam bidang studi ilmu dan teknologi pangan. Gelar Master of Science pun diraihnya pada tahun 1968, dan Doctor of Philosophy pada tahun 1970 dari Departemen Ilmu Pangan Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Selama ia melaksanakan studi di Negeri Asing, istri beliau A.M. Kriastuti turut mendampinginya sambil mengasuh kedua anak mereka, yaitu Micheal Satya Wirawan dan Ignatya Widya Kristiarti. Sedangkan anak ketiga mereka lahir di Indonesia dengan nama Stephanus Widjajanto, setelah ia menyelesaikan studi doktoralnya.
Selama menempuh studi magister, Prof. Winarno di dibimbing oleh Profesor Stumbo. Meskipun Profesor Stumbo sempat meremehkannya di awal pertemuan mereka, namun keberhasilan Prof. Winarno menaklukkan tantangan membuat sang profesor balik menyayanginya. Sepulang dari Amerika Serikat, Winarno kembali ke IPB. Saat itupun ia dipercaya menjadi Ketua Jurusan Teknologi Hasil Pertanian pada tahun 1971. Di usia 36 tahun, Winarno diangkat menjadi dekan Fakultas Mekanisasi dan Teknologi Hasil Pertanian (Fatemeta) IPB. Ketika di IPB, ia mendirikan dua lembaga penelitian dalam bidang pangan. Dengan bantuan Bank Dunia ia mendirikan Food Technology Development Center (FTDC) yang kemudian dikenal sebagai Pusat Pengembangan Teknologi Pangan (Pusbangtepa). Sedangkan bantuan dari pemerintah Jepang digunakannya untuk membangun Agricultural Product Processing Pilot Plant (AP4). AP4 ini kemudian berkembang menjadi Southeast Asian Food & Agricultural Science and Technology (Seafast).
Pada saat itu Prof. Winarno memimpin gerakan peningkatan gizi bayi melewati konsumsi air susu ibu (ASI). Beliau juga berhasil meluluskan standar internasional untuk produk mi instan dan susu fermentasi. Tidak hanya itu, beliau juga telah mengeluarkan 98 buku dan lebih dari 200 artikel atau jurnal ilmiah pada saat itu. Salah satu prinsip dalam ilmu pangan yang selalu disampaikan kepada murid-muridnya adalah, tidak mungkin bahan mentah berkualitas buruk dijadikan pangan dengan kualitas baik. Prof. Winarno pun berkata, “Tantangan utama dalam dunia pangan Indonesia adalah kebutuhan akan berbagai inovasi yang mencipatakan makanan baru dengan teknologi yang murah, awet, tidak merusak lingkungan dan enak.” Beliau sempat memodernkan sistem pengajaran di kampus Atma Jaya tersebut. Melalui pengadaan teknologi pada tiap kelas dan  memanfaatkan sistem student based learning. Sebagai pengajar, filosofi hidupnya adalah mempercayai mimpi. Menurutnya, semua orang perlu bermimpi besar untuk dikembangkan di kemudian hari. Ia mengatakan “Jika tidak bermimpi, maka kita tidak akan menjadi besar. Saya juga selalu meyakinkan murid-murid saya bahwa mereka lebih pintar dan percaya diri dan akan menjadi orang yang lebih baik dari gurunya.” Pada tanggal 1 Desember 2011 lalu, Prof. Winarno akhirnya melepaskan jabatannya sebagai rektor Universitas Katolik Atma Jaya.

Daftar Pustaka :
Nola Ahgla. 2016. “Pesan Prof Winarno, Bermimpi dan Bertindaklah”. www.cnnidonesia.com
Indofood Riset Nugraha. 2015. “Prof. Dr. FG Winarno”. www.indofoodrisetnugraha.com
Agung. 2011. “Prof FG Winarno dan Ketokohannya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar