10 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Makan
Seseorang atau Masyarakat
1.
Agama
Pemilihan
jenis makanan dipengaruhi oleh jenis agama yang dianut seseorang. Dalam penelitian yang dilakukan
pada orang dewasa di Malaysia, faktor agama merupakan faktor yang paling
penting dalam pemilihan makanan (Rahman, Khattak, dan Mansor, 2013). Agama
menjadi faktor yang lebih berpengaruh dalam mengarahkan jalan spiritual dan
jalan orang hidup termasuk motivasi seorang dalam pemilihan jenis makanan. Seperti halnya masyarakat beragama Islam tidak diperbolehkan mengonsumsi babi ataupun
hewan bertaring, sementara beberapa umat beragama Hindu (khususnya di India)
tidak diperbolehkan mengonsumi daging sapi, serta orang Buddha yang menerapkan
hidup vegetarian.
2.
Ekonomi
Pilihan seseorang terhadap jenis dan kualitas
makanan turut dipengaruhi oleh taraf ekonomi. Pendapatan yang rendah akan
membatasi seseorang untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi. Hal ini harus
mendapat perhatian serius karena keadaan ekonomi ini relatif mudah di ukur dan
berpengaruh besar pada konsumsi pangan. Golongan miskin menggunakan bagian
terbesar dari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan makanan. Hal yang perlu di pahami
adalah bahwa gizi yang baik akan berdampak pada peningkatan produktivitas kerja
seseorang sehingga merupakan unsur yang berperan dalam peningkatan keadaan
ekonomi keluarga. (Ningsih, 2010). Menurut Rachman dan Ariani (2008), pendapatan merupakan akses ekonomi yang
sangat
erat kaitannya dengan akses pangan yang dikonsumsi. Dengan pendapatan maka rumah tangga memiliki kemampuan
untuk memperoleh pangan yang cukup untuk kebutuhan energi dan gizi.
3.
Letak
geografis
Letak
geografis suatu kelompok masyarakat turut mempengaruhi cara dan perilaku makan
mereka. Suatu kelompok masyarakat akan memberdayakan dan mengonsumsi bahan
pangan yang tersedia atau sumber pangan yang dapat tumbuh dan berkembang hanya
di daerah tersebut. Sebagai contoh, cara makan dan mengelola makanan masyarakat
yang tinggal di pesisir pantai akan jauh berbeda dengan masyarakat yang tinggal
di daerah perbukitan. Sementara, perpindahan tempat tinggal yang dilakukan oleh
sekelompok masyarakat karena faktor bencana alam juga dapat merubah cara makan
mereka karena telah berpindah daerah atau letak geografis.
4.
Suku
atau bangsa
Cara
makan setiap masyarakat dari berbagai suku dan bangsa dapat berbeda. Hal tersebut
dikarenakan cara atau budaya yang diterapkan setiap suku atau bangsa berbeda
dan sesuai dengan dasar filosofi atau kepercayaan daerah masing-masing. Sebagai
contoh masyarakat Jepang memiliki kebiasaan untuk membuat suara “slurput” saat
sedang mengonsumsi mi atau makanan yang berkuah serta mangkok nasi yang
diharuskan dalam kondisi diangkat saat sedang dikonsumsi. Kedua hal ini
dilakukan untuk mengapresiasi koki atau juru masak. Sementara penduduk Asia
lainnya seperti Cina tidaklah melakukan hal tersebut, melainkan tidak
mengeluarkan suara saat mengsonsumsi mi atau makanan berkuah dan tidak
mengangkat mangkok nasi saat sedang makan.
5.
Lingkungan
atau keluarga
Suatu
lingkungan spesifik atau daerah yang ditinggali suatu kelompok masarakat dapat
mempengaruhi cara makan mereka. Seperti contohnya masayarkat atau keluarga yang
memiliki keturunan Batak akan tetap menerapkan budaya dan cara makan mereka
meskipun mereka telah tinggal di daerah berbeda yang memiliki budaya dan cara
makan berbeda. Sementara, hal tersebut dapat terjadi sebaliknya disaat suatu
keluarga yang memiliki keturunan berbeda dengan daerah atau lingkungan yang
ditinggali akan tetap menerapkan cara atau budaya makan di daerah yang
ditinggali tersebut.
6.
Kebutuhan
khusus
Cara makan
suatu kelompok masyarakat atau seseorang yang memiliki berkebutuhan khusus
tentu akan berbeda dengan tidak berkebutuhan khusus. Contohnya saat seseorang menerapkan
diet sehat untuk menurunkan berat badan maka akan berbeda dengan yang makan
secara bebas. Sementara orang yang memiliki penyakit autism sebagian besar memiliki celiac
disease atau yang dapat diesbut dengan gluten
intolerant sehingga makanan yang mereka konsumsi tidak diperbolehkan adanya
kandungan gluten. Masyarakat yang menderita penyakit tertentu seperti contohnya
diabetes akan memilah makanan yang dikonsumsi untuk menjaga kondisi tubuh.
7.
Pendidikan
Menurut
Suyastiri (2008), yang menyampaikan bahwa pola konsumsi pangan bergantung oleh
pendidikan suatu rumah tangga. Dimana semakin tinggi pendidikan formal
masyarakat atau suatu rumah tangga, maka pengetahuan dan wawasan tentang
pentingnya kualitas pangan akan menyebabkan bervariasinya pangan yang
dikonsumsi pula.
8.
Usia
Dalam hal pengaruh usia terhadap
cara makan, seorang ibu di dalam rumah tangga memegang peranan yang sangat
penting dalam menentukan pola konsumsi pangan rumah tangga. Umur ibu
diasumsikan berkaitan dengan pengalaman, tingkat pengetahuan dan sikap yang
dimilikinya dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Sehingga umur
ibu berperan
penting dalam menentukan keputusan konsumsi rumah tangga tersebut. Sementara pengaruh
usia lain, yaitu perbandingan usia bayi dengan orang dewasa. Bayi tidak bisa mengonsumsi makanan yg
bertekstur keras atau padat karena organ pencernaan atau fungsi penyerapan ususnya
belum sempurna untuk dapat mengonsumsi jenis makanan tersebut, serta dapat
memungkinkan terjadinya tersedak untuk bayi dibwah umur 6 bulan. Sementara
orang dewasa sudah memiliki penyerapan usus yang maksimal beserta dengan gigi
lengkap yang mendukung pengonsumsian makanan bertekstur keras atau padat.
9.
Teknologi
Cara makan seseorang dapat dipengaruhi oleh teknologi yang sudah berkembang. Seperti
contohnya pengonsumsian fusion food pada jaman sekarang yg berbeda dengan jenis makanan jaman
dahulu atau sebelum adanya inovasi fusion food. Fusion food sendiri diartikan sebagai masakan yang
menggabungkan beberapa unsur tradisi kuliner yang berbeda. Sehingga kalangan masyarakat yang
mengonsumsi masakan fusion tersebut tentunya memiliki cara makan dan pilihan makanan yang
berbeda dengan kelangan masyarakat yang memilih untuk mengonsumsi masakan tradisional.
10. Kesejahteraan
Faktor
kesejahteraan dalam cara makan seseorang berhubungan dengan kondisi ekonominya.
Misalnya seseorang yang dulunya mengonsumsi jenis makanan yg bervariasi dan
tidak malu untuk memakan makanan umum atau sehari-hari, tetapi sesaat kondisi
ekonominya meningkat drastis atau telah berpenghasilan tinggi maka cara makan
diterapkan berbeda. Contohnya dengan hanya ingin mengonsumsi makanan dengan
harga mahal atau jenis makanan tertentu yang memiliki nilai plus atau tinggi seperti
makanan dengan sumber bahan yang langka atau berkualitas tinggi.
Daftar pustaka:
Rahman,
S, A., Khattak, M, M, A, K., Mansor, N, R. (2013). Determinants of food choice
among adults in an urban community. Nutrition
& Food Science, Vol. 43 Iss 5 pp. 413
– 421 Review of Nutritin and
Dietetics 33, 1-41.
Ningsih Fadhilah.
(2010). Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Pola Makan Anak Usia
Prasekolah di TK Marina Dusun
Ciniayo Desa Panyangkalang Kecamatan Bajeng
Kabupaten Gowa. Universitas Islam
Negeri.
Suyastiri,
N. M. 2008. Diversifikasi Konsumsi Pangan Pokok Berbasis Potensi Lokal dalam
Mewujudkan Ketahanan Pangan Rumah
Tangga Pedesaan Di Kecamatan Semin
Kabupaten Gunungkidul.
Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 13 No 1, April 2008. Hal
51-60.
Rachman,
H. dan M. Ariani. 2008. Penganekaragaman Konsumsi Pangan di Indonesia:
Permasalahan dan Implikasi untuk
Kebijakan Program. Analisis Kebijakan Pertanian
Volume 6 No. 2, Juni 2008: 140-154.