Jumat, 28 September 2018


Obesitas Global

               Obesitas dapat dikatakan sebagai ancaman yang mendesak bagi kesehatan dan ekonomi bangsa. Saat ini, obesitas mempengaruhi lebih dari 30 persen orang dewasa dan sekitar 16 persen anak-anak dan remaja berusia dua hingga sembilan belas tahun. Faktanya, Bogalusa Heart Study menemukan bahwa 61 persen orang muda yang menjangkit obesitas sudah memiliki setidaknya satu faktor risiko tambahan untuk penyakit jantung, dan 39 persen setidaknya memiliki dua faktor risiko penyakit kesehatan lainnya. Obesitas masa kanak-kanak adalah faktor risiko untuk obesitas berat selama rentang hidup, dan pemuda dengan indeks massa tubuh (BMI) lebih besar dari persentil ke-95 memiliki kemungkinan peningkatan perkembangan penyakit kronis yang terkait obesitas pada awal kehidupan sehingga mereka harus menghadapinya saat bertambahnya tahun. Lingkungan obesogenik telah meningkat karena konsumsi makanan padat kalori dengan nilai gizi rendah dan berkurangnya aktivitas fisik harian (misalnya, peningkatan porsi porsi makanan yang dimakan di dalam dan di luar rumah dan lebih sedikit persyaratan aktivitas fisik diluar rumah). Pembuat kebijakan dan praktisi kesehatan masyarakat perlu mengetahui cara terbaik untuk menggunakan hukum dan otoritas hukum untuk membalikkan epidemi obesitas. Misalnya, undang-undang dan peraturan di tingkat pemerintah, negara bagian, dan lokal telah dilaksanakan untuk meningkatkan pilihan gizi dan akses ke makanan sehat, mendorong aktivitas fisik, dan mendidik konsumen tentang pengaplikasian gaya hidup sehat.

Jumat, 21 September 2018

Organizations and Foundations Leading Seed Sovereignty and Food Security
  
Seed Sovereignty dapat diartikan sebagai kedaulatan benih, dimana suatu kelompok masyarakat atau negara dapat menjaga kemurnian atau keaslian benih dan sumber biji utama suatu tumbuhan pangan untuk masa yang akan mendatang. Dalam  melaksanakan kedaulatan benih, beberapa negara di dunia membentuk suatu kebijakan, serta organisasi maupun proyek. Salah satunya, yaitu di Ethiopia, terlaksana proyek agroecology pada tahun 1996, serta dilaksanakan oleh suku Tigray. Selain agroecology terdapat agroforestry, yaitu melakukan penghijauan melalui penanaman pohon-pohon dan bibit-bibit tanaman hingga suatu daerah mengalami penghijauan kembali. Sementara, terdapat regulasi benih Uni Eropa, yaitu Stability, Uniformity, dan Distinctness. Stability yang dimaksud adalah memiliki kestabilan dari hasil panen ke panen berikutnya. Uniformity diartikan sebagai kesamaan atau rata-rata kualitas benih di suatu varietas yang sama, sementara distinctness dimaksud sebagai keunikan yang dimiliki suatu varietas ke varietas lainnya. Regulasi benih ini diatur oleh CPVO (Community Plant Variety Office). 
Penetapan kedaulatan benih juga dilakukan oleh negara Perancis dengan membentuk The Peasant Seed Network pada tahun 2003. The Peasant Seed Network adalah kumpulan organisasi yang memperjuangkan kebebasan benih. Sementara di negara Italia, tepatnya pada daerah Tuscany menetapkan kedaulatan benih dengan cara menerapkan kehidupan bebas dengan hasil pangan GMO (Genetically Modified Organisms). Penetapan yang dilakukan di daerah Tuscany diatur oleh European Network of GMO Free Regions. Selain lingkup Eropa, Benua Amerika juga melakukan gerakan yang mengutamakan pertanian organik berkelanjutan dan melarang adanya pangan berbasis GMO. Gerakan tersebut didukung oleh Native American Seed Bank yang dibentuk tahun 1989 dengan tujuan melestarikan tumbuhan asli Amerika. 
Sementara, negara-negara lainnya yang menerapkan dan menjunjung tinggi seed sovereignty serta food security adalah Bangladesh (Bangladesh Agricultural Development Corporation), Nepal (Monsanto), Mexico (Rockefeller), Peru (ANPE Peru), dan Argentina (Mothers of Ituzaingo).

Kamis, 13 September 2018


 The Village Hub; Sustainable Solution
            A sugar palm factory is currently managed and held by Dr. Wille Smits, the founder of the Borneo Orangutan Survival Foundation and the Masrang Foundation. In this case the sugar palm factory located in a village in South Sulawesi is supported by Masrang Foundation, leading into zero waste manufacturing and preserving the nature around it. This factory produces 60 different products and their main product as natural palm sugar. Dr. Smits explained that having zero waste out of the total production is an important thing to ensure the sustainability and benefits received by the local workers and citizens. Local workers are trained to collect liters of fresh palm sugar juice each day and distributing it to the main factory where it is finally processed into finishing products. 15-50 L of palm sugar juice is harvested form one palm tree a day with the sugar percentage of 10-17%. After it is collected, the sugar juice goes through a boiling process until sugar is concentrated as much as 20%. Else than palm sugar, other product produced are bioethanol and palm sugar syrup. Palm sugar juice is put through a fermenting tank where microorganism such as yeast is added to react and produce ethanol. The juice is then left fermenting until the concentration of ethanol reaches 90%. The finishing product as bioethanol is used as motorbike fuels and clean cooking fuel in local areas of South Sulawesi.  Carbon dioxide produced as an excess while processing bioethanol is then leaded and brought to a pool of algae, where it is fully consumed by the algae. Carbon dioxide is not released into the atmosphere in which decreases air pollution, on the other side algae are used for animal food. Finally, waste from processing bioethanol are fully utilized resulting as zero waste and sustainable for years ahead.

Kamis, 06 September 2018

10 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Makan Seseorang atau Masyarakat
1.       Agama
            Pemilihan jenis makanan dipengaruhi oleh jenis agama yang dianut seseorang. Dalam penelitian yang dilakukan pada orang dewasa di Malaysia, faktor agama merupakan faktor yang paling penting dalam pemilihan makanan (Rahman, Khattak, dan Mansor, 2013). Agama menjadi faktor yang lebih berpengaruh dalam mengarahkan jalan spiritual dan jalan orang hidup termasuk motivasi seorang dalam pemilihan jenis makanan. Seperti halnya masyarakat beragama Islam tidak diperbolehkan mengonsumsi babi ataupun hewan bertaring, sementara beberapa umat beragama Hindu (khususnya di India) tidak diperbolehkan mengonsumi daging sapi, serta orang Buddha yang menerapkan hidup vegetarian.
2.      Ekonomi 
                    Pilihan seseorang terhadap jenis dan kualitas makanan turut dipengaruhi oleh taraf ekonomi. Pendapatan yang rendah akan membatasi seseorang untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi. Hal ini harus mendapat perhatian serius karena keadaan ekonomi ini relatif mudah di ukur dan berpengaruh besar pada konsumsi pangan. Golongan miskin menggunakan bagian terbesar dari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan makanan. Hal yang perlu di pahami adalah bahwa gizi yang baik akan berdampak pada peningkatan produktivitas kerja seseorang sehingga merupakan unsur yang berperan dalam peningkatan keadaan ekonomi keluarga. (Ningsih, 2010). Menurut Rachman dan Ariani (2008), pendapatan merupakan akses ekonomi yang sangat erat kaitannya dengan akses pangan yang dikonsumsi. Dengan pendapatan maka rumah tangga memiliki kemampuan untuk memperoleh pangan yang cukup untuk kebutuhan energi dan gizi.
3.      Letak geografis
            Letak geografis suatu kelompok masyarakat turut mempengaruhi cara dan perilaku makan mereka. Suatu kelompok masyarakat akan memberdayakan dan mengonsumsi bahan pangan yang tersedia atau sumber pangan yang dapat tumbuh dan berkembang hanya di daerah tersebut. Sebagai contoh, cara makan dan mengelola makanan masyarakat yang tinggal di pesisir pantai akan jauh berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah perbukitan. Sementara, perpindahan tempat tinggal yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat karena faktor bencana alam juga dapat merubah cara makan mereka karena telah berpindah daerah atau letak geografis.
4.      Suku atau bangsa
            Cara makan setiap masyarakat dari berbagai suku dan bangsa dapat berbeda. Hal tersebut dikarenakan cara atau budaya yang diterapkan setiap suku atau bangsa berbeda dan sesuai dengan dasar filosofi atau kepercayaan daerah masing-masing. Sebagai contoh masyarakat Jepang memiliki kebiasaan untuk membuat suara “slurput” saat sedang mengonsumsi mi atau makanan yang berkuah serta mangkok nasi yang diharuskan dalam kondisi diangkat saat sedang dikonsumsi. Kedua hal ini dilakukan untuk mengapresiasi koki atau juru masak. Sementara penduduk Asia lainnya seperti Cina tidaklah melakukan hal tersebut, melainkan tidak mengeluarkan suara saat mengsonsumsi mi atau makanan berkuah dan tidak mengangkat mangkok nasi saat sedang makan.
5.      Lingkungan atau keluarga
            Suatu lingkungan spesifik atau daerah yang ditinggali suatu kelompok masarakat dapat mempengaruhi cara makan mereka. Seperti contohnya masayarkat atau keluarga yang memiliki keturunan Batak akan tetap menerapkan budaya dan cara makan mereka meskipun mereka telah tinggal di daerah berbeda yang memiliki budaya dan cara makan berbeda. Sementara, hal tersebut dapat terjadi sebaliknya disaat suatu keluarga yang memiliki keturunan berbeda dengan daerah atau lingkungan yang ditinggali akan tetap menerapkan cara atau budaya makan di daerah yang ditinggali tersebut.
6.      Kebutuhan khusus
            Cara makan suatu kelompok masyarakat atau seseorang yang memiliki berkebutuhan khusus tentu akan berbeda dengan tidak berkebutuhan khusus. Contohnya saat seseorang menerapkan diet sehat untuk menurunkan berat badan maka akan berbeda dengan yang makan secara bebas. Sementara orang yang memiliki penyakit autism sebagian besar memiliki celiac disease atau yang dapat diesbut dengan gluten intolerant sehingga makanan yang mereka konsumsi tidak diperbolehkan adanya kandungan gluten. Masyarakat yang menderita penyakit tertentu seperti contohnya diabetes akan memilah makanan yang dikonsumsi untuk menjaga kondisi tubuh.
7.      Pendidikan
            Menurut Suyastiri (2008), yang menyampaikan bahwa pola konsumsi pangan bergantung oleh pendidikan suatu rumah tangga. Dimana semakin tinggi pendidikan formal masyarakat atau suatu rumah tangga, maka pengetahuan dan wawasan tentang pentingnya kualitas pangan akan menyebabkan bervariasinya pangan yang dikonsumsi pula.
8.      Usia
            Dalam hal pengaruh usia terhadap cara makan, seorang ibu di dalam rumah tangga memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan pola konsumsi pangan rumah tangga. Umur ibu diasumsikan berkaitan dengan pengalaman, tingkat pengetahuan dan sikap yang dimilikinya dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga. Sehingga umur ibu berperan penting dalam menentukan keputusan konsumsi rumah tangga tersebut. Sementara pengaruh usia lain, yaitu perbandingan usia bayi dengan orang dewasa. Bayi tidak bisa mengonsumsi makanan yg bertekstur keras atau padat karena organ pencernaan atau fungsi penyerapan ususnya belum sempurna untuk dapat mengonsumsi jenis makanan tersebut, serta dapat memungkinkan terjadinya tersedak untuk bayi dibwah umur 6 bulan. Sementara orang dewasa sudah memiliki penyerapan usus yang maksimal beserta dengan gigi lengkap yang mendukung pengonsumsian makanan bertekstur keras atau padat.
9.      Teknologi
               Cara makan seseorang dapat dipengaruhi oleh teknologi yang sudah berkembang. Seperti 
contohnya pengonsumsian fusion food pada jaman sekarang yg berbeda dengan jenis makanan jaman 
dahulu atau sebelum adanya inovasi fusion food. Fusion food sendiri diartikan sebagai masakan yang 
menggabungkan beberapa unsur tradisi kuliner yang berbeda. Sehingga kalangan masyarakat yang 
mengonsumsi masakan fusion tersebut tentunya memiliki cara makan dan pilihan makanan yang 
berbeda dengan kelangan masyarakat yang memilih untuk mengonsumsi masakan tradisional.
10.  Kesejahteraan
            Faktor kesejahteraan dalam cara makan seseorang berhubungan dengan kondisi ekonominya. Misalnya seseorang yang dulunya mengonsumsi jenis makanan yg bervariasi dan tidak malu untuk memakan makanan umum atau sehari-hari, tetapi sesaat kondisi ekonominya meningkat drastis atau telah berpenghasilan tinggi maka cara makan diterapkan berbeda. Contohnya dengan hanya ingin mengonsumsi makanan dengan harga mahal atau jenis makanan tertentu yang memiliki nilai plus atau tinggi seperti makanan dengan sumber bahan yang langka atau berkualitas tinggi.  

Daftar pustaka:
Rahman, S, A., Khattak, M, M, A, K., Mansor, N, R. (2013). Determinants of food choice
            among adults in an urban community. Nutrition & Food Science, Vol. 43 Iss 5 pp. 413
            – 421 Review of Nutritin and Dietetics 33, 1-41.
Ningsih Fadhilah. (2010). Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Pola Makan Anak Usia
            Prasekolah di TK Marina Dusun Ciniayo Desa Panyangkalang Kecamatan Bajeng
            Kabupaten Gowa. Universitas Islam Negeri.
Suyastiri, N. M. 2008. Diversifikasi Konsumsi Pangan Pokok Berbasis Potensi Lokal dalam
            Mewujudkan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Pedesaan Di Kecamatan Semin
            Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 13 No 1, April 2008. Hal
            51-60.
Rachman, H. dan M. Ariani. 2008. Penganekaragaman Konsumsi Pangan di Indonesia:
            Permasalahan dan Implikasi untuk Kebijakan Program. Analisis Kebijakan Pertanian
            Volume 6 No. 2, Juni 2008: 140-154.