Mitos si Jahat Monosodium Glutamat
Apakah penyedap rasa
monosodium glutamat berbahaya? Masih banyak orang menganggap penyedap rasa ini,
atau vetsin atau micin ini, memberikan dampak negatif yang sangat banyak daripada
dampak positifnya. Banyak artikel yang menganggap monosodium glutamat sebagai
musuh besar yang harus dilawan dan dijauhi demi kesehatan tubuh kita. Tetapi
apakah benar bahwa monosodium glutamat sangat merugikan bagi kesehatan? Apakah
itu Monosodium Glutamat? MSG atau monosodium glutamat adalah molekul garam
sodium/natrium (Na) dan glutamat. Sebagai perbandingan, sesungguhnya unsur dari
MSG dengan garam dapur sama-sama memiliki sodium/natrium (Na). Perbedaannya
adalah garam dapur menggunakan Cl atau klorida, sedangkan MSG memakai glutamat. Sebenarnya apakah glutamat itu sendiri? Glutamat merupakan salah satu
asam amino non-esensial paling berlimpah yang terbentuk secara alami. Asam
amino non-esensial ini bukan berarti tidak penting untuk kita. Kita
tidak perlu menambahkan asam amino tersebut dalam makanan karena sudah dapat dibuat sendiri dalam tubuh
kita yang digunakan dalam proses metabolisme tubuh. Glutamat berperan sebagai
bahan baku pembentukan protein, dan protein berfungsi sebagai bahan pembangun
tubuh, membentuk sel baru, dan mengganti sel-sel yang rusak.
Jadi,
pada dasarnya glutamat dibutuhkan untuk tubuh kita. Glutamat terdapat secara
alami di hampir seluruh makanan yang kita makan, mulai dari ikan, daging, susu,
sayur, hingga buah-buahan. MSG saat ini sudah digunakan di berbagai makanan,
baik instan maupun ringan hingga masakan rumahan. Masakan yang menggunakan MSG
biasanya rasanya lebih enak, kira-kira
mengapa? Karena pada dasarnya MSG bekerja dengan memperkuat rasa alami yang ada
dalam makanan seperti daging, ikan, sayur, dan lain-lain. MSG itu bukanlah
berasal dari tipe rasa yang sudah umum dikenal, seperti manis, asam, asin dan pahit.
Rasa enak dari MSG mempunyai tipe rasa lain, lidah manusia mempunyai reseptor
tersendiri untuk rasa gurih dari glutamat. Orang-orang Jepang menyebut rasa
gurih ini dengan rasa “umami”, sedangkan orang barat mendeskripsikan rasa ini
sebagai gurih, seperti pada kaldu atau daging. Orang Amerika dan Eropa
rata-rata mengkonsumsi sekitar 11 gram glutamat alami dan 1 gram glutamat dari
MSG per harinya. Untuk negara-negara Asia, jumlah konsumsi glutamat dari MSG
jauh lebih tinggi, yaitu sekirar 3-4 gram per hari dari orang barat. Mengapa konsumsi
MSG orang asia lebih banyak? Karena bahan dan bumbu makanan orang Asia seperti soy sauce, kecap ikan atau kecap wijen
mengandung lebih banyak glutamat alami.
Dosis
MSG yang direkomendasikan (batas aman) oleh U.S
Food and Drug Administration (FDA) adalah sekitar 30 miligram per berat
badan. Misalnya, berat badan seseorang adalah 50kg, maka dosis MSG yang
direkomendasikan adalah sekitar 1,5 gram/hari. Bagaimana tubuh menerima MSG
tersebut? Menurut U.S Food and Drug
Administration (FDA), MSG yang dimakan akan dipecah oleh sistem pencernaan
menjadi sodium/natrium (Na) dan Glutamat. Kedua bahan ini sama dengan Na alami
dan glutamat alami, Na akan menjadi ion yang terlibat dalam berbagai macam
proses. Sedangkan pada glutamat, 95% glutamat yang dikonsumsi akan
dimetabolisme oleh sel-sel usus halus dan dijadikan energi untuk menjalankan
pencernaan di usus halus. Sisa 5%-nya berguna untuk membentuk protein. Lalu,
jika tubuh kita berlebihan akan bahan pangan
ini maka akan dikeluarkan lewat urin dan keringat.
Apakah
sebenarnya MSG aman? Masih menurut FDA, MSG dikategorikan sebagai zat yang
cukup aman dikonsumsi. Tetapi tetap harus diingat, “aman” menurut FDA tersebut
memiliki dosis yang sesuai dengan rekomendasi. Aman atau tidaknya suatu zat
bergantung pada dosisnya. Jika melebihi dosis, maka tetaplah dapat menjadi
berbahaya bagi tubuh. Jika MSG aman, mengapa tetap banyak stigma atau
pemikiran negatif akan MSG? Faktanya efek
pusing dan mual yang dirasakan setelah mengonsumsi MSG dialami oleh banyak
orang. Efek
tersebut disebut sebagai Chinese
Restaurant Syndrome (CRS). Istilah CRS muncul pertama kali pada tahun 1968.
Saat itu, Dr. Robert Ho Man Kwok menyebut kumpulan gejala mual, pusing, lemas
dll. yang umum terjadi sekitar 20 menit setelah makan di restoran Chinese. Setelah diadakan penelitian
lebih lanjut, ternyata efek pusing dan mual
atau CRS (Chinese Restaurant
Syndrome) ini bukan diakibatkan oleh MSG, tapi lebih tepatnya diakibatkan
oleh glutamat. MSG adalah garam penyedap rasa, sementara glutamat adalah asam
amino non esensial yang ada dimana-mana, dan tidak hanya terkandung dalam MSG
sebagai penyedap rasa. Artinya, terlalu banyak mengonsumsi keju, jagung atau
kacang polong juga dapat membuat gejala pusing, dan mual. Kesimpulan dari
penelitian lebih lanjut, yang membuat seseorang yang pusing dan mual setelah
mengonsumsi MSG adalah karena orang itu yang tidak toleran terhadap glutamat
berlebihan (glutamate intolerant).
Sama halnya seperti orang yang mempunyai alergi susu atau lactose intolerant.
Apakah
benar MSG mengakibatkan kebodohan? Sama seperti di organ tubuh lainnya,
glutamat juga berperan dalam metabolisme energi dan protein di otak. Selain
itu, glutamat memiliki fungsi lebih pada otak, yaitu sebagai neurotransmiter. Neurotransmiter
berperan untuk menyampaikan sinyal-sinyal dari sel saraf ke sel target, seperti
sel otot atau sel endokrin (kelenjar hormon). Namun, kadar glutamat berlebih di
otak dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Pada tahun 1960, peneliti dari Washington University menemukan bahwa
MSG dengan dosis sekitar 4gram/kg berat badan memiliki efek merusak jaringan
otak tikus yang baru lahir (umur 2 sampai 9 hari). Tapi ternyata hasil ini
dianggap tidak valid, untuk membuktikan MSG itu berbahaya, yaitu dosis
yang terlalu besar 4gram/kg untuk tikus
baru lahir. Jika dibayangkan kadar MSG ini lebih dari 3 kali dosis umum dan
dilakukan kepada tikus kecil yang baru lahir. Penelitian lain pada tahun 1970, Bazzano, D’Elia dan Olson, melakukan penelitian pada 11
relawan dewasa. Setiap orang diberikan asupan glutamat sampai dengan 100gram
per hari selama 42 hari. Setiap harinya, para peneliti mengawasi status kesehatan
para relawan dan melihat efek glutamat yang diberikan ke sistem syaraf. Sampai pada
hari ke-42, tidak ditemukan bukti bahwa MSG dapat merubah struktur maupun
fungsi sistem syaraf para relawan tersebut. Dengan demikian, anggapan yang
mengatakan "MSG membuat bodoh" tidak memiliki landasan bukti yang
valid. Asalkan kita mengkonsumsi semua hal pada takaran yang tepat, maka
pastinya akan membawa kea rah yang positif, begitu pula pada MSG.
Daftar
pustaka :
Dokter
Indonesia. 2010. Mitos Salah Tentang MSG, Fakta Ilmiah MSG Aman.
Kushardini
Aulia. 2016. 4 Fakta Ini Membuktikan Kalau Micin Itu
Sebenarnya Aman.
Hutomo
Setiawan Dimas. 2016. Mitos MSG - Apa Iya Penyedap Rasa Bisa Bikin Kamu
Bodoh? Baca Fakta Ini Dulu!. Style.tribunnews.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar