Minggu, 15 Oktober 2017

Monosodium Glutamat



           Mitos si Jahat Monosodium Glutamat
          Apakah penyedap rasa monosodium glutamat berbahaya? Masih banyak orang menganggap penyedap rasa ini, atau vetsin atau micin ini, memberikan dampak negatif yang sangat banyak daripada dampak positifnya. Banyak artikel yang menganggap monosodium glutamat sebagai musuh besar yang harus dilawan dan dijauhi demi kesehatan tubuh kita. Tetapi apakah benar bahwa monosodium glutamat sangat merugikan bagi kesehatan? Apakah itu Monosodium Glutamat? MSG atau monosodium glutamat adalah molekul garam sodium/natrium (Na) dan glutamat. Sebagai perbandingan, sesungguhnya unsur dari MSG dengan garam dapur sama-sama memiliki sodium/natrium (Na). Perbedaannya adalah garam dapur menggunakan Cl atau klorida, sedangkan MSG memakai glutamat. Sebenarnya apakah glutamat itu sendiri? Glutamat merupakan salah satu asam amino non-esensial paling berlimpah yang terbentuk secara alami. Asam amino non-esensial ini bukan berarti tidak penting untuk kita. Kita tidak perlu menambahkan asam amino tersebut dalam makanan  karena sudah dapat dibuat sendiri dalam tubuh kita yang digunakan dalam proses metabolisme tubuh. Glutamat berperan sebagai bahan baku pembentukan protein, dan protein berfungsi sebagai bahan pembangun tubuh, membentuk sel baru, dan mengganti sel-sel yang rusak.
Jadi, pada dasarnya glutamat dibutuhkan untuk tubuh kita. Glutamat terdapat secara alami di hampir seluruh makanan yang kita makan, mulai dari ikan, daging, susu, sayur, hingga buah-buahan. MSG saat ini sudah digunakan di berbagai makanan, baik instan maupun ringan hingga masakan rumahan. Masakan yang menggunakan MSG biasanya rasanya  lebih enak, kira-kira mengapa? Karena pada dasarnya MSG bekerja dengan memperkuat rasa alami yang ada dalam makanan seperti daging, ikan, sayur, dan lain-lain. MSG itu bukanlah berasal dari tipe rasa yang sudah umum dikenal, seperti manis, asam, asin dan pahit. Rasa enak dari MSG mempunyai tipe rasa lain, lidah manusia mempunyai reseptor tersendiri untuk rasa gurih dari glutamat. Orang-orang Jepang menyebut rasa gurih ini dengan rasa “umami”, sedangkan orang barat mendeskripsikan rasa ini sebagai gurih, seperti pada kaldu atau daging. Orang Amerika dan Eropa rata-rata mengkonsumsi sekitar 11 gram glutamat alami dan 1 gram glutamat dari MSG per harinya. Untuk negara-negara Asia, jumlah konsumsi glutamat dari MSG jauh lebih tinggi, yaitu sekirar 3-4 gram per hari dari orang barat. Mengapa konsumsi MSG orang asia lebih banyak? Karena bahan dan bumbu makanan orang Asia seperti soy sauce, kecap ikan atau kecap wijen mengandung lebih banyak glutamat alami.
Dosis MSG yang direkomendasikan (batas aman) oleh U.S Food and Drug Administration (FDA) adalah sekitar 30 miligram per berat badan. Misalnya, berat badan seseorang adalah 50kg, maka dosis MSG yang direkomendasikan adalah sekitar 1,5 gram/hari. Bagaimana tubuh menerima MSG tersebut? Menurut U.S Food and Drug Administration (FDA), MSG yang dimakan akan dipecah oleh sistem pencernaan menjadi sodium/natrium (Na) dan Glutamat. Kedua bahan ini sama dengan Na alami dan glutamat alami, Na akan menjadi ion yang terlibat dalam berbagai macam proses. Sedangkan pada glutamat, 95% glutamat yang dikonsumsi akan dimetabolisme oleh sel-sel usus halus dan dijadikan energi untuk menjalankan pencernaan di usus halus. Sisa 5%-nya berguna untuk membentuk protein. Lalu, jika tubuh kita  berlebihan akan bahan pangan ini maka akan dikeluarkan lewat urin dan keringat.
Apakah sebenarnya MSG aman? Masih menurut FDA, MSG dikategorikan sebagai zat yang cukup aman dikonsumsi. Tetapi tetap harus diingat, “aman” menurut FDA tersebut memiliki dosis yang sesuai dengan rekomendasi. Aman atau tidaknya suatu zat bergantung pada dosisnya. Jika melebihi dosis, maka tetaplah dapat menjadi berbahaya bagi tubuh. Jika MSG aman, mengapa tetap banyak stigma atau pemikiran negatif akan MSG? Faktanya efek pusing dan mual yang dirasakan setelah mengonsumsi MSG dialami oleh banyak orang. Efek tersebut disebut sebagai Chinese Restaurant Syndrome (CRS). Istilah CRS muncul pertama kali pada tahun 1968. Saat itu, Dr. Robert Ho Man Kwok menyebut kumpulan gejala mual, pusing, lemas dll. yang umum terjadi sekitar 20 menit setelah makan di restoran Chinese. Setelah diadakan penelitian lebih lanjut, ternyata efek pusing dan mual  atau CRS (Chinese Restaurant Syndrome) ini bukan diakibatkan oleh MSG, tapi lebih tepatnya diakibatkan oleh glutamat. MSG adalah garam penyedap rasa, sementara glutamat adalah asam amino non esensial yang ada dimana-mana, dan tidak hanya terkandung dalam MSG sebagai penyedap rasa. Artinya, terlalu banyak mengonsumsi keju, jagung atau kacang polong juga dapat membuat gejala pusing, dan mual. Kesimpulan dari penelitian lebih lanjut, yang membuat seseorang yang pusing dan mual setelah mengonsumsi MSG adalah karena orang itu yang tidak toleran terhadap glutamat berlebihan (glutamate intolerant). Sama halnya seperti orang yang mempunyai alergi susu atau lactose intolerant.
Apakah benar MSG mengakibatkan kebodohan? Sama seperti di organ tubuh lainnya, glutamat juga berperan dalam metabolisme energi dan protein di otak. Selain itu, glutamat memiliki fungsi lebih pada otak, yaitu sebagai neurotransmiter. Neurotransmiter berperan untuk menyampaikan sinyal-sinyal dari sel saraf ke sel target, seperti sel otot atau sel endokrin (kelenjar hormon). Namun, kadar glutamat berlebih di otak dapat menyebabkan kerusakan pada otak. Pada tahun 1960, peneliti dari Washington University menemukan bahwa MSG dengan dosis sekitar 4gram/kg berat badan memiliki efek merusak jaringan otak tikus yang baru lahir (umur 2 sampai 9 hari). Tapi ternyata hasil ini dianggap tidak valid, untuk membuktikan MSG itu berbahaya, yaitu dosis yang  terlalu besar 4gram/kg untuk tikus baru lahir. Jika dibayangkan kadar MSG ini lebih dari 3 kali dosis umum dan dilakukan kepada tikus kecil yang baru lahir. Penelitian lain pada tahun 1970, Bazzano, D’Elia dan Olson, melakukan penelitian pada 11 relawan dewasa. Setiap orang diberikan asupan glutamat sampai dengan 100gram per hari selama 42 hari. Setiap harinya, para peneliti mengawasi status kesehatan para relawan dan melihat efek glutamat yang diberikan ke sistem syaraf. Sampai pada hari ke-42, tidak ditemukan bukti bahwa MSG dapat merubah struktur maupun fungsi sistem syaraf para relawan tersebut. Dengan demikian, anggapan yang mengatakan "MSG membuat bodoh" tidak memiliki landasan bukti yang valid. Asalkan kita mengkonsumsi semua hal pada takaran yang tepat, maka pastinya akan membawa kea rah yang positif, begitu pula pada MSG.

Daftar pustaka :
Dokter Indonesia. 2010. Mitos Salah Tentang MSG, Fakta Ilmiah MSG Aman.
                www.klinikanakonline.com
Kushardini Aulia. 2016. 4 Fakta Ini Membuktikan Kalau Micin Itu Sebenarnya Aman.
 
Hutomo Setiawan Dimas. 2016. Mitos MSG - Apa Iya Penyedap Rasa Bisa Bikin Kamu
    Bodoh? Baca Fakta Ini Dulu!. Style.tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar